March 18, 2015

Untuk ITU bukan untuk KAMU

 
Aku ingin berlari...
Untuk ITU bukan untuk kamu

Aku ingin berusaha
Untuk ITU bukan untuk kamu

Aku ingin berkarya
Untuk ITU bukan untuk kamu

Aku ingin berhasil
Berkat ITU bukan berkat kamu

dan akhirnya...

Aku menyerah
Karena kamu bukan karena ITU

Karena kamu... adalah keterbatasan dan kemunafikan.

Dan aku, adalah korban yang tersadarkan.

regards,

July 20, 2014

Midnight Madness #2



Tidak sanggup menulis apa-apa
Malam ini saya merasa sangat mengantuk
Hanya butuh tidur dan menikmati kelelahan.

 
regards,

July 10, 2014

Midnight Madness #1



"Aku tidak hadir untuk bercanda
Aku hadir untuk bercinta.
Jadi jangan beri aku tawa,
Tapi beri aku kepuasan dahaga."


- Ellious Grinsant -




July 3, 2014

Photo Expo : Lonely Chair


Photo Source : My Nokia Lumia 1520

Sebuah bangku kosong yang diapit oleh Jokowi dan JK. Foto ini diambil pada pukul 00.30 dini hari di trotoar Jalan H.R. Rasuna Said, Kuningan Jakarta.

Note : Rasanya damai sekali berjalan kaki ditengah sepinya kota pada dini hari. Kamu bisa merasakan bagaimana sebuah kota tertidur dalam ketenangan, dan kedua kaki kamu melintas diantaranya.



regards,

July 1, 2014

Note : Golput Bukan Pilihan

 
Source : http://www.campaign.com/pilpres2014
 
Golput (tidak memilih) pada pemilu sebelumnya pernah menjadi fenomena yang merebak di kalangan masyarakat. Hal ini dikarenakan masyarakat tidak tahu, bahkan tidak peduli dengan siapa yang akan menjadi presiden mereka 5 tahun ke depan. Pada Pemilu tahun 2009 sebelumnya, presentase Golput yang diperoleh sekitar 29%. Sebuah presentase yang jika diasosiasikan sebagai partai, maka Partai Golput sudah mutlak keluar sebagai pemenang Pemilu 2009.

Untuk tahun ini saja Presentase golput diperkirakan akan lebih tinggi lagi. Menurut Peneliti Senior Lembaga Survei Indonesia (LSI), Burhanuddin Muhtadi, mengatakan bahwa presentase golput pada Pemilu Presiden nanti akan bertambah mencapai 50%.
Ini jelas merupakan sebuah kekhawatiran bagi saya pribadi ataupun bagi pihak-pihak yang bersangkutan. Bagaimana bisa sebuah bangsa bisa tidak peduli dengan masa depan negaranya 5 tahun ke depan. Bagaimana bisa orang-orang sudah tidak peduli lagi dengan Tanah Airnya dan lebih memilih untuk mengurus diri sendiri.

Mau jadi apa bangsa ini jika ada banyak orang pada bangsa ini tidak sudi untuk menggunakan suara mereka pada pemilu. Apakah karena faktor masyarakat sudah jengah dengan janji-janji, atau apa karena sudah tidak percaya lagi dengan pemerintahan kita, atau mungkin mereka sudah pasrah dan tidak peduli lagi mau dibawa ke mana bangsa ini di masa mendatang. Jika itu yang menjadi alasan, maka bangsa ini sepertinya telah menuju masa penurunan Bhineka Tunggal Ika, dimana bangsa kita yang sudah berbeda-beda namun kini lebih memilih untuk mengurus diri atau kelompoknya masing-masing. Jelas ini merupakan sebuah kemunduran dari sebuah bangsa, apalagi negara.

Sekarang waktunya berubah, mari saling membantu untuk meraih kembali kepercayaan masyarakat pada calon presiden kita mendatang. Jokowi dan Prabowo merupakan sosok individu yang bisa dipercaya dan yakin akan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Mereka adalah para visioner yang sanggup memimpin bangsa ini. Misi dan Visi mereka, keinginan mereka serta latar belakang mereka menjadi tolak ukur dari seberapa hebatnya kedua tokoh ini layak untuk menjadi presiden jika terpilih kelak.

Oleh karena itu mari memilih. Tentukan pilihanmu sekarang, dan bergabung bersama mereka yang sudah menentukan pilihan di Campaign.com/Pilpres2014 Melalui halaman online ini, kita bisa melihat masyarakat dari berbagai lapisan dan golongan sudah yakin dan menentukan pilihan mereka pada masing-masing Calon Presiden.

Di halaman online itu juga kita bahkan sudah bisa melihat progres dukungan dari kedua kubu Calon Presiden tersebut, serta apa kata mereka tentang masing-masing calon presiden tersebut. Kita juga bisa melihat profil dari Prabowo dan Jokowi lengkap dengan website dan akun sosial media mereka. Website Campaign.com ini jelas mencoba mengajak masyarakat untuk tidak menjadi Golput dan mulai menentukan pilihan mereka; Apakah Prabowo-Hatta atau Jokowi-JK.

Untuk itu ayo kita menentukan pilihan dan memberikan dukungan kepada siapa pun yang akan menjadi pilihan kita. Karena Golput itu bukan pilihan, bukan juga keputusan. Menjadi Golput itu artinya memberikan masa depan bangsa ini ditentukan oleh orang lain.

Tentukan pilihanmu!


Note : Artikel ini merupakan copy-paste dari seorang teman
regards,

June 30, 2014

#Latepost - Campaign Team

From My Nokia Lumia 1520


#Latepost - Campaign Team. So proud to be part of this team.

regards,

June 23, 2014

Dan Dirikupun Mencoba Menikmati Hidup

wallpaperswide

Jadi beberapa hari yang lalu gua menyempatkan diri nonton film barat dimana Cinta Laura berperan sebagai salah satu artis pendukung di film itu. Judulnya The Philosopher. Materinya ceritanya sih oke, cuma penggarapannya aja yang agak kurang mulus.

Bercerita tentang sekelompok anak muda di kelas filosofi dan sedang memasuki masa ujian. Salah satu ujian mereka adalah mereka melakukan simulasi imajinasi dengan tema, jika bumi ini dilanda perang nuklir, dan kemungkinan seluruh bumi hancur baik oleh ledakan atom ataupun radiasi yang terpancar, hanya akan ada 10 orang yang bisa selamat. Karena mereka bisa masuk kedalam gudang perlindungan yang bisa menopang hidup mereka selama 1 tahun. Sayangnya jumlah orang yang ada adalah 20 orang. Otomatis separuh harus tidak bisa ikut.

Tadinya gua mengira ini akan menjadi semacam film Battle Royale atau The Hunger Games, dimana mereka akan saling bunuh-bunuhan. Namun nyatanya tidak, setiap siswa diberi 1 peran. Dan penentuan siapa yang bisa masuk ke gudang perlindungan adalah dari seberapa penting peran-peran mereka. Ada yang jadi dokter, ahli tanamam, sampai peracik minuman dan penyanyi opera.

Gua gak mau menceritakan film ini secara utuh, namun yang menarik dari film ini adalah saat mendekati akhir film. Pada akhir film dijelaskan mengenai apa itu menikmati hidup. Yang akhirnya hal ini mengusik gua.

Walaupun secara tidak terkait, namun masih ada benang yang seenggaknya berhubungan dengan film ini. Mengenai cara menikmati hidup. Memang sih, bagi orang seumuran gua (menurut pemikiran beberapa orang) belum saatnya untuk sok-sokan menikmati hidup. Masih mudah tuh waktunya kerja keras cari uang. Kalo soal nikmatin hidup mah ntar dulu, tunggu elo mapan. Gua boleh dibilang setuju dengan pendapat itu, namun disatu sisi diri gua ada argumen lain yang terus menarik gua agar tidak tenggelam dalam paradigma seperti itu. Argumen yang bernama hak.

Argumen inilah yang selalu menarik gua jika mulai terlampau jauh menyelami dunia kerja keras. Argumen yang selalu mengingatkan gua bahwa "Elo mempunyai hidup yang untuk dijalani.". Ya, argumen inilah yang selalu mencegah gua untuk menjadi seorang robot diperusahaan. Yang mengingatkan gua bahwa gua adalah manusia. Yang akhirnya membuat gua selalu mencoba memanjakan diri dengan tema "Menikmati hasil kerja keras itu penting, bro!"

Karena terkadang kita merasa bahwa pekerjaan kita sudah merenggut kita dari kehidupan. Perlahan-lahan hidup kita dirampas oleh kegiatan yang seharusnya hanya dari jam 9 sampai jam 5 sore, menjadi jam 9 sampai selamanya. Dan hal inilah yang membawa gua ke pertanyaan; "Apakah ini layak atau pantas gua jalani."

Hal ini juga yang mengingatkan gua akan film berjudul The Devil Wears Prada. Tentang seorang asisten Pemimpin Redaksi yang hampir saja mencapai kesuksesannya namun pada akhirnya dia memilih untuk meninggalkannya. Karena dia akhirya menyadari bahwa pekerjaan yang sedang ia jalani sudah merampok dirinya dari kehidupannya, keluarganya, teman-temannya dan bahkan pacarnya.

Setiap gua menonton film ini, gua seolah selalu diingatkan untuk tahu batasan dari setiap hal atau tidakan yang gua lakukan. Film itu mengajarkan bahwa segila-gilanya elo bekerja, jika sampai di titik dimana elo merasa hak kemanusiannya elo diambil dan akal budi elo sudah mulai tidak singkron, itu adalah waktu yang tepat bagi elo untuk berhenti. Karena jika elo terus melaju, mungkin elo akan sampai pada level dimana nilai-nilai kemanusiaan sudah tidak berarti lagi dibanding dengan seberapa hebat prestasi lo di mata si bos.

Dan seperti yang dulu gua pernah ceritakan di sini, dimana gua saat ini sedang mengambil jalan berputar, adalah tepat dimana gua tidak perlu menjadi orang yang terlalu gila. Karena seperti yang gua bilang tadi, saat ini gua sedang mengambil jalan berputar, jadi sepertinya gua masih bisa memilih untuk menjalani bekerja dan menikmati hidup secara bersamaan.

Gua nggak akan pernah menghakimi negatif orang-orang yang memilih untuk menggila dalam bekerja. Itu hak mereka dan gua tidak akan mengganggu-gugat tentang keputusan yang mereka ambil. Karena memang bagi sebagian orang menjual hidup mereka untuk gaji tinggi adalah hal yang lebih baik. Setidaknya apa yang mereka kerjakan dengan apa yang mereka hasilkan sepadan. Dan selama mereka tidak mencoba menghasut gua untuk menjadi sama seperti mereka.

Mereka juga masih bisa kok menikmati hidup disela-sela pekerjaan mereka yang menggila. Hanya saja dengan cara yang berbeda... dan biasanya tidak biasa. Dengan gaji tinggi yang mereka dapatkan biasanya mereka cenderung mencari kenikmatan yang instan namun maksimal. Apapun yang sanggup menarik mereka dalam sekejap kepada kenikmatan yang maksimal namun singkat. Setidaknya untuk beberapa saat, mereka bisa melupakan pekerjaan mereka sebelum keesokan paginya mesin-mesin robot dibadan mereka kembali bekerja dan secara otomatis menarik mereka dari peradaban.

Dan akhirnya gua pun memilih. Memilih untuk tetap bekerja sekuat tenaga tanpa melupakan azas-azas kemanusiaan. Mencoba untuk menjalani hidup sebagai seorang pekerja kantoran, berusaha berprestasi tanpa pernah melupakan bagaimana cara menikmati hidup yang sebagaimana orang-orang bahagia banyak lakukan. Seenggaknya gua masih tau lah gosip artis ini atau gosip artis itu. Atau seenggaknya gua masih tau kalo Korea Utara belum menembakkan senjata nuklirnya ke Korea Selatan. Atau seenggaknya gua masih bisa berbahagia ketika hari jumat telah datang... pertanda bahwa besoknya adalah weekend.



regards,