July 3, 2014

Photo Expo : Lonely Chair


Photo Source : My Nokia Lumia 1520

Sebuah bangku kosong yang diapit oleh Jokowi dan JK. Foto ini diambil pada pukul 00.30 dini hari di trotoar Jalan H.R. Rasuna Said, Kuningan Jakarta.

Note : Rasanya damai sekali berjalan kaki ditengah sepinya kota pada dini hari. Kamu bisa merasakan bagaimana sebuah kota tertidur dalam ketenangan, dan kedua kaki kamu melintas diantaranya.



regards,

July 1, 2014

Note : Golput Bukan Pilihan

 
Source : http://www.campaign.com/pilpres2014
 
Golput (tidak memilih) pada pemilu sebelumnya pernah menjadi fenomena yang merebak di kalangan masyarakat. Hal ini dikarenakan masyarakat tidak tahu, bahkan tidak peduli dengan siapa yang akan menjadi presiden mereka 5 tahun ke depan. Pada Pemilu tahun 2009 sebelumnya, presentase Golput yang diperoleh sekitar 29%. Sebuah presentase yang jika diasosiasikan sebagai partai, maka Partai Golput sudah mutlak keluar sebagai pemenang Pemilu 2009.

Untuk tahun ini saja Presentase golput diperkirakan akan lebih tinggi lagi. Menurut Peneliti Senior Lembaga Survei Indonesia (LSI), Burhanuddin Muhtadi, mengatakan bahwa presentase golput pada Pemilu Presiden nanti akan bertambah mencapai 50%.
Ini jelas merupakan sebuah kekhawatiran bagi saya pribadi ataupun bagi pihak-pihak yang bersangkutan. Bagaimana bisa sebuah bangsa bisa tidak peduli dengan masa depan negaranya 5 tahun ke depan. Bagaimana bisa orang-orang sudah tidak peduli lagi dengan Tanah Airnya dan lebih memilih untuk mengurus diri sendiri.

Mau jadi apa bangsa ini jika ada banyak orang pada bangsa ini tidak sudi untuk menggunakan suara mereka pada pemilu. Apakah karena faktor masyarakat sudah jengah dengan janji-janji, atau apa karena sudah tidak percaya lagi dengan pemerintahan kita, atau mungkin mereka sudah pasrah dan tidak peduli lagi mau dibawa ke mana bangsa ini di masa mendatang. Jika itu yang menjadi alasan, maka bangsa ini sepertinya telah menuju masa penurunan Bhineka Tunggal Ika, dimana bangsa kita yang sudah berbeda-beda namun kini lebih memilih untuk mengurus diri atau kelompoknya masing-masing. Jelas ini merupakan sebuah kemunduran dari sebuah bangsa, apalagi negara.

Sekarang waktunya berubah, mari saling membantu untuk meraih kembali kepercayaan masyarakat pada calon presiden kita mendatang. Jokowi dan Prabowo merupakan sosok individu yang bisa dipercaya dan yakin akan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Mereka adalah para visioner yang sanggup memimpin bangsa ini. Misi dan Visi mereka, keinginan mereka serta latar belakang mereka menjadi tolak ukur dari seberapa hebatnya kedua tokoh ini layak untuk menjadi presiden jika terpilih kelak.

Oleh karena itu mari memilih. Tentukan pilihanmu sekarang, dan bergabung bersama mereka yang sudah menentukan pilihan di Campaign.com/Pilpres2014 Melalui halaman online ini, kita bisa melihat masyarakat dari berbagai lapisan dan golongan sudah yakin dan menentukan pilihan mereka pada masing-masing Calon Presiden.

Di halaman online itu juga kita bahkan sudah bisa melihat progres dukungan dari kedua kubu Calon Presiden tersebut, serta apa kata mereka tentang masing-masing calon presiden tersebut. Kita juga bisa melihat profil dari Prabowo dan Jokowi lengkap dengan website dan akun sosial media mereka. Website Campaign.com ini jelas mencoba mengajak masyarakat untuk tidak menjadi Golput dan mulai menentukan pilihan mereka; Apakah Prabowo-Hatta atau Jokowi-JK.

Untuk itu ayo kita menentukan pilihan dan memberikan dukungan kepada siapa pun yang akan menjadi pilihan kita. Karena Golput itu bukan pilihan, bukan juga keputusan. Menjadi Golput itu artinya memberikan masa depan bangsa ini ditentukan oleh orang lain.

Tentukan pilihanmu!


Note : Artikel ini merupakan copy-paste dari seorang teman
regards,

June 30, 2014

#Latepost - Campaign Team

From My Nokia Lumia 1520


#Latepost - Campaign Team. So proud to be part of this team.

regards,

June 23, 2014

Dan Dirikupun Mencoba Menikmati Hidup

wallpaperswide

Jadi beberapa hari yang lalu gua menyempatkan diri nonton film barat dimana Cinta Laura berperan sebagai salah satu artis pendukung di film itu. Judulnya The Philosopher. Materinya ceritanya sih oke, cuma penggarapannya aja yang agak kurang mulus.

Bercerita tentang sekelompok anak muda di kelas filosofi dan sedang memasuki masa ujian. Salah satu ujian mereka adalah mereka melakukan simulasi imajinasi dengan tema, jika bumi ini dilanda perang nuklir, dan kemungkinan seluruh bumi hancur baik oleh ledakan atom ataupun radiasi yang terpancar, hanya akan ada 10 orang yang bisa selamat. Karena mereka bisa masuk kedalam gudang perlindungan yang bisa menopang hidup mereka selama 1 tahun. Sayangnya jumlah orang yang ada adalah 20 orang. Otomatis separuh harus tidak bisa ikut.

Tadinya gua mengira ini akan menjadi semacam film Battle Royale atau The Hunger Games, dimana mereka akan saling bunuh-bunuhan. Namun nyatanya tidak, setiap siswa diberi 1 peran. Dan penentuan siapa yang bisa masuk ke gudang perlindungan adalah dari seberapa penting peran-peran mereka. Ada yang jadi dokter, ahli tanamam, sampai peracik minuman dan penyanyi opera.

Gua gak mau menceritakan film ini secara utuh, namun yang menarik dari film ini adalah saat mendekati akhir film. Pada akhir film dijelaskan mengenai apa itu menikmati hidup. Yang akhirnya hal ini mengusik gua.

Walaupun secara tidak terkait, namun masih ada benang yang seenggaknya berhubungan dengan film ini. Mengenai cara menikmati hidup. Memang sih, bagi orang seumuran gua (menurut pemikiran beberapa orang) belum saatnya untuk sok-sokan menikmati hidup. Masih mudah tuh waktunya kerja keras cari uang. Kalo soal nikmatin hidup mah ntar dulu, tunggu elo mapan. Gua boleh dibilang setuju dengan pendapat itu, namun disatu sisi diri gua ada argumen lain yang terus menarik gua agar tidak tenggelam dalam paradigma seperti itu. Argumen yang bernama hak.

Argumen inilah yang selalu menarik gua jika mulai terlampau jauh menyelami dunia kerja keras. Argumen yang selalu mengingatkan gua bahwa "Elo mempunyai hidup yang untuk dijalani.". Ya, argumen inilah yang selalu mencegah gua untuk menjadi seorang robot diperusahaan. Yang mengingatkan gua bahwa gua adalah manusia. Yang akhirnya membuat gua selalu mencoba memanjakan diri dengan tema "Menikmati hasil kerja keras itu penting, bro!"

Karena terkadang kita merasa bahwa pekerjaan kita sudah merenggut kita dari kehidupan. Perlahan-lahan hidup kita dirampas oleh kegiatan yang seharusnya hanya dari jam 9 sampai jam 5 sore, menjadi jam 9 sampai selamanya. Dan hal inilah yang membawa gua ke pertanyaan; "Apakah ini layak atau pantas gua jalani."

Hal ini juga yang mengingatkan gua akan film berjudul The Devil Wears Prada. Tentang seorang asisten Pemimpin Redaksi yang hampir saja mencapai kesuksesannya namun pada akhirnya dia memilih untuk meninggalkannya. Karena dia akhirya menyadari bahwa pekerjaan yang sedang ia jalani sudah merampok dirinya dari kehidupannya, keluarganya, teman-temannya dan bahkan pacarnya.

Setiap gua menonton film ini, gua seolah selalu diingatkan untuk tahu batasan dari setiap hal atau tidakan yang gua lakukan. Film itu mengajarkan bahwa segila-gilanya elo bekerja, jika sampai di titik dimana elo merasa hak kemanusiannya elo diambil dan akal budi elo sudah mulai tidak singkron, itu adalah waktu yang tepat bagi elo untuk berhenti. Karena jika elo terus melaju, mungkin elo akan sampai pada level dimana nilai-nilai kemanusiaan sudah tidak berarti lagi dibanding dengan seberapa hebat prestasi lo di mata si bos.

Dan seperti yang dulu gua pernah ceritakan di sini, dimana gua saat ini sedang mengambil jalan berputar, adalah tepat dimana gua tidak perlu menjadi orang yang terlalu gila. Karena seperti yang gua bilang tadi, saat ini gua sedang mengambil jalan berputar, jadi sepertinya gua masih bisa memilih untuk menjalani bekerja dan menikmati hidup secara bersamaan.

Gua nggak akan pernah menghakimi negatif orang-orang yang memilih untuk menggila dalam bekerja. Itu hak mereka dan gua tidak akan mengganggu-gugat tentang keputusan yang mereka ambil. Karena memang bagi sebagian orang menjual hidup mereka untuk gaji tinggi adalah hal yang lebih baik. Setidaknya apa yang mereka kerjakan dengan apa yang mereka hasilkan sepadan. Dan selama mereka tidak mencoba menghasut gua untuk menjadi sama seperti mereka.

Mereka juga masih bisa kok menikmati hidup disela-sela pekerjaan mereka yang menggila. Hanya saja dengan cara yang berbeda... dan biasanya tidak biasa. Dengan gaji tinggi yang mereka dapatkan biasanya mereka cenderung mencari kenikmatan yang instan namun maksimal. Apapun yang sanggup menarik mereka dalam sekejap kepada kenikmatan yang maksimal namun singkat. Setidaknya untuk beberapa saat, mereka bisa melupakan pekerjaan mereka sebelum keesokan paginya mesin-mesin robot dibadan mereka kembali bekerja dan secara otomatis menarik mereka dari peradaban.

Dan akhirnya gua pun memilih. Memilih untuk tetap bekerja sekuat tenaga tanpa melupakan azas-azas kemanusiaan. Mencoba untuk menjalani hidup sebagai seorang pekerja kantoran, berusaha berprestasi tanpa pernah melupakan bagaimana cara menikmati hidup yang sebagaimana orang-orang bahagia banyak lakukan. Seenggaknya gua masih tau lah gosip artis ini atau gosip artis itu. Atau seenggaknya gua masih tau kalo Korea Utara belum menembakkan senjata nuklirnya ke Korea Selatan. Atau seenggaknya gua masih bisa berbahagia ketika hari jumat telah datang... pertanda bahwa besoknya adalah weekend.



regards,

November 29, 2013

Snowpiercer : Miniatur Dunia & Kehidupan dalam Sebuah Kereta Abadi

 
Director : Bong Joon-Ho


Boleh dibilang ini merupakan salah satu karya terbaiknya sutradara Bong Joon Ho. Film ini tampil tidak hanya sebagai film fiksi ilmiah semata, namun menjelma menjadi sebuah penggambaran reprentatif mengenai bagaimana kehidupan di dunia ini yang sesungguhnya. Berkisah tentang bumi yang dilanda kepunahan akibat kesalahan teknologi yang menyebabkan bumi diselimuti zaman es selama berpuluh-puluh tahun. Mencoba untuk mempertahankan garis kehidupan, sekelompok manusia berlindung dalam sebuah kereta yang melaju tanpa henti melintasi bumi. Kereta ini ibarat bahterah Nuh yang membawa orang-orang yang selamat dari zaman es yang mematikan tersebut.

Berada dalam "bahterah Nuh" tersebut tidak menjamin bahwa semua orang bisa mendapatkan perlakuan sama, sebagaimana yang biasa para survivor lakukan. Disini yang terjadi adalah seluruh unsur kehidupan dikerucutkan, diperjelas dan dipertajam. Para manusia yang berada dalam kereta tersebut dipisahkan dalam kelas-kelas sosial. Pemisahan berdasarkan pada kelas kepenumpangan mereka. Mulai dari Kelas Executive, kelas Eknomi dan penumpang gratisan. Kelas Eksekutif dan Ekonomi adalah mereka yang membayar untuk bisa selamat, sementara penumpang gratisan adalah mereka orang-orang kumuh yang diselamatkan namun berakhir sebagai penumpang yang tertindas.

Source : Google

Di kereta ini kesenjangan sosial tampak begitu jelas dan eksplisit. Yang kaya hidup berfoya-foya dan pesta pora, sementara yang miskin harus merasakan penderitaan dan ketidakadilan. Hal inilah yang akhirnya menimbulkan sebuah revolusi dari para penumpang miskin yang menginginkan kehidupan yang lebih baik, atau paling tidak rasa nyaman, aman dan terlepas dari penderitaan. Dan seiring dengan laju kereta yang terus membelah salju, para tertindas memulai revolusi penuh pengorbanan dan tumpahan dari ini dari ekor kereta menuju ke lokomotif.

Film ini benar-benar memberikan sebuah tayangan yang penuh makna. Bagaimana ketidakadilan terjadi dengan jelas dan "dirawat". Bagaimana orang-orang miskin harus berjuang dan bahkan saling berkanibal untuk bisa bertahan hidup. Sementara mereka yang ada digerbong depan mendapatkan kemewahan dan kesejahteraan melimpah. Film ini juga menjelaskan secara gamblang bahwa setiap perjuangan tidak pernah ada yang mudah, selalu ada yang berkorban dan dikorbankan. Tentang seseorang yang bisa saja berubah haluan walaupun sebelumnya dirinya berjuang dengan keras untuk membalas dendam. Tentang sistem, tentang posisi dan tentang fungsi kita masing-masing dalam kehidupan.

Bong Joon Ho benar-benar mencoba menampilkan ringkasan dunia dalam sebuah kehidupan kereta. Mencoba mengingatkan kita bahwa disaat kita duduk nyaman menyaksikan film di studio bioskop yang mewah dan sejuk, ada orang-orang dibelahan bumi lain yang harus duduk menyaksikan sanak saudaranya mati secara perlahan karena kemiskinan dan kelaparan. Mencoba mengingatkan kita bahwa diluar sana ada orang-orang yang sedang memperjuangkan ketidakadilan. Mengingatkan kita bahwa apa yang terjadi dalam Snowpiercer nyatanya memang terjadi di dunia ini dalam skala yang lebih luas.

Source : google

Segi Teknis film ini dikerjakan dengan baik. Bong Joon Ho benar-benar berhasil meyakinkan penonton mengenai kondisi dunia pada saat itu. Sutradara ini juga berhasil membawa penonton menikmati adegan demi adegan yang terjadi dalam sebuah kereta tanpa perlu merasa bosan. Jelas saja, karena tim artistik film ini berhasil memberikan disain dan dekorasi berbagai gerbong yang berbeda-beda namun indah. Serta entah memiliki maksud tertentu atau tidak, namun sutradara ini berhasil memasukan adegan sebuah kelas berisi anak-anak yang sedang didoktrin untuk mengaggap sang pemilik kereta sebagai Tuhan mereka. Adegan yang mengingatkan kita pada negara tetangga Korea Selatan, dimana masyarakatnya sudah dicuci otaknya untuk menganggap sang presiden adalah Tuhan mereka.

Ada salah satu tokoh menarik dalam film ini yaitu Jendral Mason yang diperankan oleh Tilda Swinton. Tilda berhasil memerakan karakter Jendral yang iconic dan memorable. Dia berhasil menjadi seorang jendral yang kejam, merendahkan, keji, berkelas dan pengecut. Boleh dibilang karakter Jendral Mason menjadi salah satu karakter yang paling menonjol dalam film ini. Akting Tilda Swinton benar-benar solid dan menonjol.

Jendral Mason by Tilda Swinton

Pada akhirnya film ini hadir tidak hanya sebagai hiburan namun juga membuka pikiran kita tentang kehidupan. Snowpiercer membawa kita mengelilingi dunia yang putih bersalju dalam sebuah revolusi berdarah di kereta abadi. Menyaksikan film ini seperti mengingatkan kita akan keadaan-keadaan diluar sana yang tidak kita sadari namun terjadi. Seperti para penumpang belakang yang tidak tahu bagaimana mewahnya kehidupan di gerbong depan, dan seperti para penumpang gerbong depan yang tidak tahu bagaimana kejamnya pederitaan yang dirasakan para penumpang di gerbong belakang.

Title
Snowpiercer

Director
Bong Joon-Ho

Year
2013

Genre
Action | Drama | Sci-Fi

Languange
English

Subtitle
Indonesia

Cast
Chris Evans, Ed Harris, Jamie Bell, Tilda Swinton, Alison Pill, Octavia Spencer, Kang-ho Song, Ah-sung Ko, Lue Pasqualino

Only at Blitzmegaplex

Source : Google

Score : 8.5 / 10
"We move forward..."
regards,

November 10, 2013

Kelakuan Anaknya

Source : My Nokia Lumia 720

Bertemu dengan bapak ini pada saat perjalanan menuju kantor. Benar-benar dibuat tersenyum dengan kepangan rambutnya yang unyu-unyu. Pasti yang ngepang anak perempuannya, hehehe... Dan sang bapak dengan bangganya menampilkan hasil karya anaknya kepada dunia. Ayah yang baik... :D







regards,

October 13, 2013

Alay Urban

pic: wallpaperswide

Anak remaja pake baju warna tabrakan. Cewek pake hot pants, kemeja putih, rompi hitam, dasi merah, topi merah plus sepatu booth merah menyala. Cowok pake celana bahan super ketat, kemeja gelap, gesper merah berduri-duri, kaca mata spion. Mungkin itu sudah nggak asing lagi sih bagi kita. Atau yang kalo ngirim SMS memadu-padankan penggunaan huruf yang overload, angka, tanda baca, tanda pagar, bintang, kurung buka-kurung tutup, kurung kurawal, sama dengan dan lain-lain. Mahluk-mahluk seperti mereka biasa kita kenal dengan sebutan alay. Gua yakin sebagian dari kita adalah golongan yang menertawakan mereka karena eksistensi mereka.

Namun sebenarnya kita sendiri sadar nggak sih, ada jenis alay baru yang tanpa sadar mulai menjakiti remaja-remaja, muda-mudi bahkan orang-orang dewasa saat ini. Sebuah jenis alay yang sebenarnya hampir sama parahnya dengan alay yang sebelumnya. Jenis alay yang memang tidak norak dalam arti penampilan, namun norak dalam arti pergaulan. Jenis alay yang disebut dengan Alay Urban.

Gua nggak tau sih yang lain pada nyadar apa nggak. Tapi kalo gua sendiri menyadari ini. Saat orang-orang yang ingin merasa gaul atau eksis berusaha untuk ikut-ikutan zaman. Okelah, zaman Blackberry semua orang meng-alay dengan pengen ikutan punya BB dengan alasan biar dibilang keren dan elegan. Padahal kenyatannya, fungsi BB (semenjak sindrom ini melanda indonesia) sudah turun dari gadget yang menentukan kelas sosial, menjadi gadget sejuta umat. Dan saat itu kegunaan BB dari hape yang digunakan untuk membantu keperluan kantor dan bisnis menjadi hape yang digunakan untuk keperluan chat saja.

Lalu Alay Urban mulai menjamah ke produk baru. Yang mendefinisi ulang kata gaul, eksis dan berkelas ke batas yang baru. Tablet. Di fase ini kaum alay urban mulai menemukan tingkatan baru dalam dunia pergaulan "ngakunya" eksekutif-eksklusif dengan mulai beramai-ramai menggunakan tablet. Mulai dari tablet dengan jenis "super-mahal" sampai tablet dengan jenis "murah-meriah-yang-penting-punya". Pada dasarnya tablet diciptakan dengan spesifikasi-spesifikasi khusus untuk konsumen-konsumen tertentu dengan kebutuhan yang spesifik. Ada yang untuk membaca, untuk belajar, untuk presentasi bisnis, untuk programming, untuk kebutuhan kantor dan keperluan lain. Namun Alay Urban merusak itu semua dengan menyamaratakan fungsi tablet sebagai alat untuk gaul. Yah, mereka membeli tablet (yang inginnya bagus) namun pada akhirnya hanya digunakan untuk chat, main game, upload foto sarapan/makan siang/makan malam mereka di instagram, sampai untuk dipamerkan ketika berkumpul bersama teman ditempat umum. Eksistensi ke-alay-an mereka ditegaskan dengan ketika jalan-jalan hanya menenteng tablet saja, tanpa perlu bawa-bawa barang lain. Biarlah barang-barang lain ditinggal di rumah, yang penting tablet kepunyaan bisa disaksikan dunia.

Detil pergaulan Alay Urban sempat mengheboh ketika Uniqlo membuka gerai pertama mereka di Indonesia. Sontak semua member Alay Urban bergejolak penuh nafsu dan hasrat untuk segera menyerang toko pakaian tersebut ketika waktunya dibuka. Jauh sebelum toko tersebut dibuka, euforia sudah menggelinjang-gelinjang dikalangan anak bangsa, maksud gua anak Alay Urban. Secarap bertahan namun frekuentatif mereka mulai sering membicarakan produk-produk toko tersebut tidak lupa diselipkan rencana belanja mereka diliputi detil-detil harga dan akan digunakan untuk acara apa. Sebagian dari mereka mulai menyusun rencana strategis jangka panjang-jangka pendek untuk membeli produk-produk yang bisa mensinkronisasikan eksistensi pergaulan mereka kearah yang sudah ditetapkan. Dan begitu toko tersebut dibuka, para Alay Urban yang berkekayaan pas-pasan langsung menyerbu bagaikan orang-orang miskin berebut raskin. Mereka menyerang toko tersebut seolah hari itu adalah hari terakhir sebelum kiamat menimpa bumi, karena embel-embel diskon gede-gedean. Disana mereka memporak-porandakan toko tersebut untuk mencari barang-barang dalam list mereka untuk dipakai sebelum bumi hancur dan mereka mati dalam fashion.

Jangan lupakan ketika virus Fixie menyebar dan menginkubasi dalam ranah pergaulan Alay Urban. Sepeda yang entah dari mana munculnya, tiba-tiba secara perlahan merayapi jalan-jalan ibu kota dengan warna-warnanya yang menyilaukan. Alay Urban yang tadinya tidak hobi bersepeda secara ghaib menjadi suka bersepeda dengan alasan kamuflase "pengen hidup sehat", namun kedok dibalik semua itu apalagi kalo bukan ingin singkronisasi pergaulan. Alay Urban mulai terlihat dalam momen-momen Car Free Day di hari minggu, bergerombol pada saat pulang kerja, bergoes bersama dalam suka dan canda tawa di sabtu siang yang cerah. Atau berkumpul di spot-spot tempat hang out dimana sepeda fixie mereka digunakan sebagai kartu pass untuk masuk dalam pergaulan. Dan begitu alam mulai berhasil memusnahkan virus Fixie, para Alay Urban berlabel "gaul hidup sehat" secara perlahan sirna dari muka bumi. Well, mereka nggak lenyap, hanya saja pergaulan dengan fixie sudah dirasa tidak eksis lagi, jadi lebih baik tuh sepeda diletakan di gudang saja, daripada dipake terus dan dianggap ketinggalan jaman.

Alay Urban mungkin akan menistakan Alay Versi Lama karena cara mereka berkirim pesan. Kombinasi huruf, angka, tanda baca, simbol-simbol yang disatukan dalam kalimat akan terlihat mengerikan jika dibaca oleh manusia normal, apa lagi oleh Alay Urban yang jelas-jelas tidak mau disamakan sama Alay Versi Lama. Bagi Alay Urban cara berkirim pesan seperti itu sangat kampungan dan tidak tahu tata bahasa. Namun entah kenapa ALay Urban tidak pernah menyadari bahwa mereka sendiri punya cara berkomunikasi yang pada akhirnya tidak memiliki etika tata bahasa. Jika Alay Versi Lama berkomunikasi dengan bahasa alay, maka Alay Urban berkomunikasi dengan emoticon. Ya, mereka kecanduan emoticon. Sejak Line dan Kakao Talk mulai menginsepsi pikiran mereka dengan fungsi dan kemenarikannya. Alay Urban mulai berburu emoticon-emoticon lucu untuk digunakan dalam percakapan mereka. Mereka rela bayar mahal demi mendapatkan Emoticon impian mereka, dan kemudian mereka kerap pergunakan (baca: pamerkan) dalam setiap percakapan baik bersifat pribadi maupun dalam group. Berharap ada teman mereka yang memuji emoticon-nya karena unik dan lucu, dan Alay Urban akan tersenyum dalam kebanggaan.

Kenyataan paling pahit yang gua dapati dari fenomena ini adalah anggota-anggota yang bergabung dalam Alay Urban ini. Jika Alay Versi Lama adalah kumpulan anak-anak remaja korban kecelakaan mode dan pergaulan. Dimana sebagian dari mereka mungkin tidak punya cukup otak untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang kecelakaan fashion dan mana yang high fashion, mana yang bisa dibaca dan mana yang tidak bisa dibaca. Sementara Alay Urban justru muncul dari orang-orang yang berpendidikan. Mereka yang bersekolah, berkuliah, bahkan yang sudah bekerja di gedung-gedung tinggi nan elegan. Mereka dari golongan orang-orang yang memang berkelas, bercita rasa, memiliki gaya berpakaian yang modis, gadget expert, social media expert, namun semua itu adalah hasil contekan. Hasil dari contoh-contoh yang mereka pelajari mati-matian demi singkronisasi pergaulan. Mereka ingin tampak berkelas, maka mereka berjuang mati-matian untuk bisa dianggap salah satu dari antaranya. Mereka tidak tinggal di daerah-daerah pinggiran, namun tinggal di pusat kota, di epicentrum ibu kota, di tengah titik pergaulan, namun sebagian dari mereka berstatus anak kost, sewa kontrakan atau patungan sewa apartement.

Apapun mereka lakukan dan korbankan sehingga ketika mereka berjalan ditengah keramaian, mereka bisa berjalan dengan kepala tegak. Karena atribut-atribut pergaulan mereka sudah lengkap dipakai ataupun dipegang. Ketika berjalan di mall mereka tidak minder karena mereka telah serupa. Ketika ngongkrong bersama di Excelso, mereka tidak minder karena sudah sama rata sama gaya. Dan ketika berchating ria, mereka tidak perlu bingung, karena mereka sudah mengerti enkripsi-enskripsi komunikasi emoticon.

Gua nggak tau mereka sadar atau tidak, bahwa mereka sudah terlabelkan dengan label Alay Urban. Bahwa mereka sudah menjadi Alay juga, hanya saja mereka tidak tau ataupun tidak sadar. Percaya atau tidak, fenomena ini sudah ada dan terjadi, hanya saja kita sulit menyadari karena mereka tidak pernah tampil norak... atau memang karena kita juga adalah bagian dari mereka.





regards,