May 10, 2013

Lalu Lintas Bekasi Kamis Kemarin


Gak tau kenapa, kemaren tuh pas mau berangkat olah raga perasaan lalu lintasnya itu cukup bersahabat. Nggak ada kemacetan berarti yang mampu menimbulkan duka dan lara. Padahal kamis kemaren kan hari libur.

Seneng aja kaya gitu, ngeliat jalan tol juga nggak padet jalannya, padahal jam 7 malem.
Jalan-jalan naik motor kesayangan jadi nyantai banget.
Sering-sering aja sih kaya gini. Kan hidup bisa jadi lebih damai dan tentram, hehehehe...

Cuma lagi pengen bilang itu aja kok.
Heheheeee.... :p



regards,

April 28, 2013

Photo Expo : Selang Air Sore


By : Ellious Grinsant


April 23, 2013

Jalan Memutar

By : Ellious Grinsant

Apakah kalian mempunyai mimpi? sebuah tujuan?
Apakah kalian dapat dengan mulus mencapai tujuan tersebut?
Apakah kalian hanya memerlukan sebuah jalan lurus?
Atau apakah kalian harus berputar dulu sebelum sampai ke tujuan?

Sebuah materi cerita yang terdapat dalam novel Perahu Kertas karangan Dewi Lestari (yang mana novel itu difilmkan dengan mengecewakan) membahas mengenai filosofi jalan memutar.
Di buku tersebut diceritakan bahkan terkadang kita harus berputar dulu sebelum sampai ke tujuan akhir kita. Waktu membacanya sih gua setuju-setuju aja. Hal seperti itu memang lazim terjadi. Sampai pada saat dimana gua sendiri yang harus mengalaminya.

Ketika gua tau apa tujuan gua. Gua pengen menjadi ini dan pengen menjadi itu. Namun begitu dihadapi dengan 'cara'nya, gua pun kemudian terdiam. Bagaimana gua bisa sampai kesana?

Mungkin gua bisa saja menghabiskan waktu untuk mencari tahu bagaimana caranya, namun, kita harus berhadapan dengan kenyataan. Bahwa life must go on. Perut juga butuh sesuatu untuk dicerna, dan makanan tidak akan datang dengan sendirinya tanpa usaha. Pada saat itulah gua berpikir bahwa gua harus berputar dulu untuk sampai tujuan, namun disaat yang sama gua masih tetap bernyawa untuk bisa mencapainya.

Gua berharap bisa mendapatkan jalan lurus yang express langsung menuju tujuan utama gua. Namun kenyataannya itu tidak semudah yang gua bayangkan. Tidak semudah omongan-omongan bullshitnya si Salam Super itu. Gua harus berputar dulu. Ada banyak hal lain, yang terkadang tidak ada hubungannya sama sekali, yang harus gua lakukan untuk tiba ditujuan akhir gua. Lalu gua pun bertanya apakah ini merugikan? Mengingat umur kita terus berdetak.

Pada titik ini gua mulai merasakan frustrasi, akan waktu yang sudah atau akan gua habiskan hanya untuk berputar. Karena gua menginginkan menikmati tujuan utama gua untuk jangka waktu yang lama, bukan untuk sebentar saja. Jadi gua butuh jalur lurus! Namun sayangnya kenyataan berkata berbeda. Gua harus berputar, seperti yang banyak orang lain lakukan.

Dan gua mulai mencoba menerima kenyataan dan melihat ada hal baik disana. Gua perlahan sadar bahwa berputar itu memang berdampak penundaan yang cukup merugikan, namun disisi lain hal ini memberikan pendidikan untuk kita. Gua sadar bahwa dengan berputar kita diajak berkeliling untuk melihat berbagai hal yang pada akhirnya, sebagian atau seluruhnya bisa kita gunakan ketika kita sampai pada tujuan akhir kita. Gua sadar bahwa berputar hanyalah bagian dari proses yang memberikan kita berbagai pengalaman dan asahan mental supaya kita bisa menjadi sosok yang lebih baik.

Mendapatkan jalan lurus memang sebuah keberuntungan dan keistimewaan, namun kita mungkin saja tidak sepantas mereka yang sudah berputar. Begitu kita mendapatkan jalan lurus, ada banyak tantangan yang pada akhirnya akan membutuhkan waktu untuk menyelesaikannya, dan hal ini yang membuat kita jalan di tempat.
Namun begitu kita mengambil jalan berputar, kita menjadi pribadi yang matang, yang siap, yang berpengalaman, yang mampu dan hebat ketika kita sampai ditujuan kita. Dan ketika banyak tantangan yang datang menghadang, kita tidak lagi menghabiskan waktu untuk menyelesaikannya, karena yakinlah, ketika itu terjadi kita akan terus berjalan.




regards,


April 16, 2013

Selingkuh : Kenapa dan Untuk Apa?

google

Kenapa kita selingkuh?

Sebuah pertanyaan yang terkadang mengganjal gua untuk memberikan sebuah argumen personal.
Kita adalah mahluk visual. Ya walaupun kata "mahluk visual" lebih tepat disandingkan ke laki-laki, namun pada dasarnya kedua gender tersebut memiliki dasar sifat yang sama, walaupun dengan presentase yang berbeda.

Gua mengakui memiliki kelemahan dalam melihat sesuatu yang indah. Apapun yang berpenampilan menarik pasti akan mampu menarik mata gua ke sudut untuk memperhatikannya lebih lama. Apa yang gua alami dan lakukan ini mungkin juga dilakukan oleh sebagian besar orang diluar sana. Karena pada alaminya kita tertarik melihat yang bagus-bagus.

Atas dasar konsep diatas itulah gua mencoba membawa hal ini kedalam ranah sebuah 'hubungan'. Ketika kita sudah bersanding, baik untuk sementara atau tetap dengan seseorang, kita akan selalu tergoda untuk melihat yang baru. Mengeksplore hati yang baru, menjelajah kehidupannya, menikmati kemenarikannya, terhanyut dalam pesonanya. Sebuah hal yang secara perlahan menarik kita pada sebuah fase yang bernama selingkuh.

Atau ketika apa yang sudah kita genggam tidak menarik lagi. Saat itulah kita mencoba mencari sentuhan baru yang berbeda. Kita mencoba mencari rasa dan sensasi baru yang berbeda. Konyol aja kalo kita mencari rasa dan sensasi yang sama. Kenapa berbeda? karena perbedaan akan selalu menjadi yang paling menarik. Ketika kita menatap mata yang berbeda, menyentuh dinding tubuh yang berbeda, mengecup rasa yang berbeda. Semua itu memberikan rasa yang menarik, walaupun disaat yang bersamaan mengkhawatirkan.

Kita terhisap dalam visual baru, terhisap dalam fantasi baru, terhisap dalam sensasi baru. Bersama dia yang berbeda. Tangan kita menggenggam, hati kita bertaut, pikiran bergejolak, jiwa berhasrat. Dan atas dasar persetujuan kedua belah pihak kita memulai hubungan baru. Lalu begitu kita menyadarinya ada nama dari semua itu: Selingkuh.

Gua sebagai salah satu orang yang tidak atau belum mempercayai apa itu cinta, masih belum bisa menyelami makna selingkuh lebih dalam. Nggak tau, apakah menjelajah bibir orang di hari senin dan menjelajah bibir yang berbeda di hari rabu tanpa terikat persaan bisa dikategorikan selingkuh? Gua rasa sih enggak. Karena yang gua rasakan selama ini hanyalah kesemuan.

Namun pada akhirnya gua mencoba untuk mengenal. Apa itu selingkuh? Bagaimana dia bekerja. Sebuah perasaan sayang yang disembunyikan dari dunia. Sebuah hubungan yang disembunyikan dari dia yang kita sebut pasangan. Mengapa kita selingkuh? apakah untuk mencari rasa baru? atau mencari perbaikan?

Dia yang kita kenal sudah tidak lagi menarik, sudah tidak lagi menyenangkan, sudah membosankan, sudah hambar. Lalu mengapa kita mempertahankan?
Lalu mengapa kita selingkuh?
Untuk apa?
Apakah ini berakhir pada sebuah formula kasih sayang yang baru, atau untuk merevisi dan menemukan nilai baru dalam hubungan kita yang sudah lama terjalin?

Apa itu rasa baru? Birahi? Kalau begitu mengapa kita menjalin hubungan?
Apa itu rasa baru? Kasih sayang? Kalau begitu apa bedanya dengan yang sudah kita dapatkan?

Apa yang kita rasakan ketika berselingkuh? Rasa senang... khawatir... adrenalin... kebanggaan?
Untuk apa kita berselingkuh? Rasa baru atau rasa bangga?
Rasanya sangat kekanak-kanakan ketika kita melakukan perselingkuhan untuk alasan kebanggaan. Bagi gua personal memiliki banyak selingkuhan adalah reprensentasi dari ketololan yang dimanipulasi. Sebuah ketololan karena ketika hati kita tidak bisa bertahan pada hati lain untuk waktu yang lama namun bersikeras menjalin sebuah hubungan.

Lalu apakah selingkuh itu salah? Well, bagi gua pribadi sih tidak. Karena kita hidup untuk mencoba.
Memang akan ada pihak yang dirugikan, namun pada akhirnya semua itu hanya akan menjadi tanggung jawab masing-masing pihak. Ada resiko dari tiap tindakan, ada pilihan dari setiap kesempatan. Memang ini bisa saja berakhir pada ujung yang berantakan. Namun nantinya kita akan menyadari bahwa dari keberantakan itu ada nilai-nilai dan makna yang terserak diantaranya. Dan dengan begitu kita bisa tahu dari mana harus memulai kembali.

Dan pada akhirnya bagaimana ini akan berujung? Apa definisi hubungan yang bisa kita peroleh dari perselingkuhan yang kita jalani. Apakah ini menjadi sebuah permulaan baru atau sebuah bab baru?

Apakah kita akan memutuskan untuk mengakhiri yang lama dan memulai dengan yang baru. Menyadari bahwa segalanya memang berubah, diri kita berubah. Kita merasa memerlukan orang baru yang sanggup dan mau berjalan bersama perubahan diri kita. Berjalan bersama menemukan arah baru. Kita menyadari pada akhirnya ini adalah rasa cinta yang sebenarnya. Perselingkuhan hanyalah sebuah fase untuk menyakinkannya.

Atau apakah kita memutuskan untuk kembali dan memulai bab baru dalam buku yang sama. Kita menyadari bahwa dia yang kita sembunyikan itu hanyalah sebuah jalan bercabang yang pada akhirnya membawa kita kembali kepada jalan kita sebelumnya. Kita menyadari bahwa segala rasa, sensasi, kenikmatan dan kasih sayang yang kita nikmati dari dia yang kita sembunyikan tidak bisa menggantikan apapun yang telah melekat lebih dulu di hati kita. Kita menyadari bahwa semua itu hanyalah sebuah cara untuk membuat kita kembali kepada pasangan kita dengan sudut pandang yang baru dan menyadari bahwa kita sudah bersama orang yang tepat.

Atau...

Kita menyadari bahwa pada dasarnya kita tidak memiliki rasa apapun. Kita menyadari bahwa kita hanyalah kebebasan. Kita hanyalah jiwa yang tidak tertambat. Kita tidak memilik tempat berlabuh. Kita tidak memiliki jalan pulang...
Kita adalah jiwa yang datang dan pergi. Mencari kesenangan bersama orang lain dan menikmati kesedihan dalam diri sendiri. Kalo begini adanya, kita sebenarnya tidak pernah selingkuh. Kita hanya merasa bebas, dan pasangan kita hanyalah orang yang menganggap dirinya korban.

Akhir mana yang kita rasakan?
 Regards




April 5, 2013

Trus Gua Musti Ngulang Dari Awal Lagi Gitu?

Source : Google

Jadi gini, seperti yang sudah gua pernah ceritakan sebelumnya, gua berencana untuk menulis sebuah novel. Sebuah keingingan yang menggebu-gebu namun bertolak belakang dengan kemampuan memulai. Cerita sih udah semangat banget, namun entah mengapa gua maleeeeees banget untuk memulai. #JanganDicontoh

Lalu karena kebetulan gua lagi gak punya motivasi untuk menggangu hidup orang, maka gua dengan baik hati membagikan plot singkat, padat, tepat novel gua ini ke adik gua yang paling kecil. Dimana adik gua ini senang sekali foto-foto dengan tabletnya. Jika diperiksa tabletnya, dari 200 foto yang ada disitu, yakinlah 90% adalah foto mukanya, 5% adalah fotonya dirinya bersama teman-temannya dan 5% lagi foto dengan objek lain. #GejalaNarsis

Gua merasa adik gua yang akan masuk SMA juni tahun 2013 ini, tampaknya sudah memiliki level otak yang cukup untuk bisa menerima plot cerita gua. Maka gua menceritakan sinopsis novel gua ke dia secara ringkasannya. Gua menceritakan dengan penuh keyakinan bahwa tema ini termasuk jarang diangkat, karena tidak berat #PemikiranBinaragawan. Dan begitu selesai bercerita adik gua inipun berkomentar;

"Kayanya gua pernah deh nonton FTV yang ceritanya mirip-mirip sama novel elu."

WHAT the WHAT?! Dalam waktu singkat seolah dunia persilatan runtuh. Peta dunia persilatan mendadak kacau balau. Kenyataan bahwa bakal calon cerita novel gua ini pernah diangkat sebelumnya ke FTV. Gua shock, karena termotivasi untuk shock. Lalu gua memasuki fase penenangan diri yang casual dan berakhir pada fase resolusi. Disini gua meyakinkan diri bahwa cerita gua bakalan berbeda dengan yang di FTV itu. Lagian kan biasanya FTV kalo bikin cerita asal-asalan. #TetepNgeles

Namun dengan begitu gua melihat ancaman lain. Jangan-jangan ada juga novel lain yang memiliki cerita yang serupa. Maka untuk mengantisipasi itu gua pergi ke toko buku beberapa hari kemudian untuk memeriksa sinopsis dari berbagai novel yang gua temui. Syukurlah, sejauh ini gua belum menemukan novel yang memiliki cerita serupa atau setidaknya sedikit berhubungan dengan cerita yang bakalan gua tulis nanti.

Abis gua males aja kalo harus ngulang brainstorming dari awal lagi. Capek tauk meres-meres otak.


regards,





April 1, 2013

Yeah, this is right...



Pic Source : Google.com

Setuju?



March 27, 2013

So Called 'Kisah Cinta'

google
Jadi ceritanya tengah malem gitu gua nonton film Taiwan yang judulnya You Are The Apple of My Eye. Nonton sendirian di laptop, supaya lebih kusyuk, lebih berasa, lebih meresap ke relung hati yang paling dalam #berlebihan.

Filmnya sih bagus, ceritanya bagus, ditambah unsur-unsur konyolnya. Endingnya lumayan bikin gua agak sedikit melow-melow gitu. Cuma karena faktor ngantuk menyerang, jadi melow-nya nggak lama-lama amat.

Keesokan harinya gua setel nih film buat ditonton rame-rame sama temen-temen gua. Dan sukses membuat salah satu temen gua teringat akan mantannya. Yang kisah cintanya nggak jauh beda sama kisah yang ada di film ini. WUAKAAKAKAKAK, langsung galau dia pas abis nonton film ini, wuahahahahahah! #KetawaSetan

Proyek novel masih dalam tahap penggodokan. Masih bingung mau pake ending yang mana, masih bingung milih klimaks yang mana. Masih bingung mau ditulis di laptop, kertas atau di prasasti #KorbanSejarah
Lagian udah sengaja menolak tawaran manggung sama main film dari berbagai pihak (baca : nganggur) demi mengerjakan novel ini. Yaaah, gimana yak, entah mengapa gua pengen memiliki sebuah karya yang bisa dibaca orang banyak suatu saat nanti. Gua pengen ketika ke toko buku ada orang yang sedang memperhatikan buku gua dan kemudian tertarik membelinya.

Proyek lain yang dikerjakan adalah proyek lari pagi...
Jadi sebagai wujud keikutsertaan gua dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, gua tersentuh untuk berlari pagi. Tujuannya sih pengen ngurangi berat badan. Sejak sempet kerja selama 3 bulan entah mengapa secara kimiawi dan fisikawi berat gua bertambah menuju ke bobot yang mengerikan. Gua naik 5 kilo! #SeriusCuy!
Pantesan pecun yang suka mangkal di ujung jalan udah mulai jarang godain gua lagi. Ini toh penyebabnya.

Udah ah mau tidur.

Pelajaran Moral:
"Buanglah sampah pada tempatnya!"

regards,